PROMOTION STRATEGY IN LIBRARY

November 3rd, 2009

Promotion are so needed in library, because they are the important unit for library in order that library can be exist. Of course, the existence of library is a given by image from that library itself. The image which is developed can reflect on condition from that library itself. Whereas to promote the library, we are want for promotion strategy in library, as: advertising and sales promotion and special event and publicity. With the result that, we must apply all of them for the sake existence our library.

WARUNG SASTRA (SINOPSIS NOVELKU)

May 7th, 2009

 

“KADO UNTUK AYAH”

 

 

SINOPSIS CERITA

 

Sisi adalah seorang anak yang berusia 15 tahun. Dia selalu meletakkan pena dan diary kesayangannya di samping bantal dan bonekanya. Setiap akan tidur dia tidak pernah lupa menulis diary. Dia menumpahkan semua ketakutannya pada diary itu yang dia anggap sahabatnya. Dia lebih dekat pada Ayahnya daripada Ibunya.

Ayahnya merasa penasaran dengan apa yang ditulis Sisi dalam diarynya. Sejak Sisi kecil, Ayahnya tidak pernah berani membuka diary Sisi. Karena Sisi pernah meminta pada Ayah, Ibu, dan Adiknya agar berjanji untuk tidak akan membuka diarynya.

Setelah ulang tahun Sisi yang ke-15, Ayahnya mengingkari janjinya pada Sisi. Dia diam-diam membaca semua tulisan dalam diary Sisi. Dia tersentak kaget, ternyata Sisi phobia dengan orang-orang yang dia temui, Sisi juga phobia pada hal-hal baru, Sisi sulit menangkap apa yang dibicarakan orang, dan Sisi paling takut untuk melakukan kesalahan dalam hidupnya. Padahal yang Ayah Sisi tahu selama ini, Sisi hanyalah anak cengeng yang tidak jauh beda dengan anak-anak lain. Akhirnya Ayah Sisi paham apa yang menyebabkan anaknya enggan bertemu dan berkumpul dengan orang lain walaupun teman sekolahnya dan dia lebih suka menyendiri, Sisi sering menangis tanpa sebab dan sering termenung menatap langit seperti orang bingung. Dan sejak saat itu dia selalu membaca diary Sisi. Akan tetapi, Sisi tidak pernah mengetahui apa yang dilakukan Ayahnya. Yang Sisi tahu, Ayahnya selalu memberikan semangat dan nasehat-nasehat agar Sisi terus berjuang mengejar mimpi-mimpinya.

Sisi pun akhirnya menulis tentanng perjuangan dan semangat dia untuk menggapai cita-citanya. Dalam tulisannya, Sisi berjanji pada Ayahnya, dia tidak akan pernah berhenti berjuang untuk melawan ketakutannya dan terus bersemangat untuk menggapai semua mimpi-mimpinya. Kemudian Ayah Sisi bicara dalam batinnya, “Itulah kado untuk Ayah Nak…, Ayah percaya bahwa Sisi pasti bisa, dan Ayah yakin masa depan Sisi terbentang saangat maaniisss…”.  

 

 

 

WARUNG LINGUISTIK

May 7th, 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SINONIMI NOMINA HUBUNGAN KEKERABATAN BAHASA JAWA

DI DESA PASEBAN, KECAMATAN KENCONG, KABUPATEN JEMBER

 

 

 

Anita Tri Widiyawati

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Jember

ABSTRACT

The meaning component of genetic relationship in Javanese language at Paseban Village, Kencong Sub district, Jember Regency close related with society culture. This research purposed to know the similarity and differences between the synonymy pairs, the factor that forms the background of the synonymy and the change of genetic relationship meaning in Javanese language in Paseban Village. This research used qualitative method. The study result showed that there are sixteen pairs of genetic relationship synonymy in Javanese language in Paseban Village. The factor that can be reason is collocation factor. This factor consists of: absorption words, sense value, prestige, and speech level.

 

Key words: the meaning component and synonymy. 

 

 

RINGKASAN

 

Sinonimi Nomina Hubungan Kekerabatan Bahasa Jawa di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember: Anita Tri Widiyawati, 040110201015; 2008: 245 halaman; Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Jember.

 

            Hubungan kekerabatan adalah hubungan di antara dua individu karena asal-usul yang sama. Kata-kata yang termasuk dalam hubungan kekerabatan dapat dikatakan sebagai nomina (kata benda), akan tetapi juga dapat disebut sebagai pronomina (kata ganti) orang ketiga. Hubungan kekerabatan dalam bahasa Jawa meliputi: bentuk hubungan kekerabatan/pertalian keluarga pada generasi kakek; generasi orang tua; generasi ego; generasi anak; dan generasi cucu.

            Sinonimi adalah kemiripan makna (kesamaan yang tidak mutlak). Sinonimi hubungan kekerabatan bahasa Jawa dianalisis dengan menggunakan analisis komponen makna. Permasalahan yang hendak dikaji dalam penelitian ini adalah: persamaan dan perbedaan di antara pasangan sinonimi, faktor yang melatarbelakangi terciptanya sinonimi, dan perubahan makna nomina (kata benda) hubungan kekerabatan bahasa Jawa di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember sebagai akibat munculnya pasangan sinonimi nomina  hubungan kekerabatan bahasa Jawa di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan semua dari permasalahan tersebut.

            Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Pengambilan sampel dalam penelitian ini berdasarkan status sosial keluarga informan dalam masyarakatnya, antara lain: keluarga informan yang berstatus sebagai pegawai; keluarga informan yang berstatus sebagai pedagang; keluarga informan yang berstatus sebagai petani; keluarga informan yang berstatus sebagai keluarga haji; dan keluarga informan yang berstatus sebagai orang alim. Jumlah informan terdiri dari dua puluh orang. Lokasi penelitian berada di Desa Paseban. Metode pengambilan data menggunakan teknik sadap. Data dianalisis dengan cara membandingkan atau mengkomparasikan makna referensial dengan makna pemakaian (makna gramatikalnya). 

Penulis menyimpulkan berdasarkan analisis dan pembahasan tentang sinonimi nomina hubungan kekerabatan bahasa Jawa di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember bahwa sebutan ‘kakek’ ada sembilan belas, sebutan ‘nenek’ ada dua puluh lima, sebutan ‘saudara tua laki-laki dari orang tua’ ada sebelas, sebutan ‘saudara tua perempuan dari orang tua’ ada tiga belas, sebutan ‘orang tua laki-laki’ ada enam, sebutan ‘orang tua perempuan’ ada delapan, sebutan ‘saudara muda laki-laki dari orang tua’ ada  sepuluh, sebutan ‘saudara muda perempuan dari orang tua’ ada  dua belas, sebutan ‘saudara tua laki-laki’ ada sembilan, dan sebutan ‘saudara tua perempuan’ ada sepuluh. Faktor kolokasi ini meliputi: faktor kata serapan, faktor nilai rasa, faktor prestige, dan faktor tingkat tutur. Sebutan ‘saudara muda laki-laki’ ada sebelas, sebutan ‘saudara muda perempuan’ ada tiga belas, sebutan ‘anak laki-laki’ ada delapan belas, sebutan ‘anak perempuan’ ada dua belas, sebutan ‘cucu laki-laki’ ada lima belas, dan sebutan ‘cucu perempuan’ ada empat belas. Faktor penyebab masing-masing sebutan tersebut adalah faktor kolokasi. Faktor kolokasi ini meliputi: faktor kata serapan,  faktor nilai rasa, dan faktor prestige.

Analisis sinonimi dengan menggunakan analisis komponen makna sangat membantu dalam menemukan persamaan dan perubahan pasangan sinonimi. Analisis ini juga dapat membantu dalam menemukan perbedaan pasangan sinonimi yang diperjelas dengan disubstitusikannya kata-kata yang menjadi pasangan sinonimi dalam kalimat dan disertai juga adanya konteks kalimat. Hal ini disebabkan makna antara kata yang satu dengan kata yang lain dalam objek kajian ini tidak hanya berhubungan dengan bahasa, tetapi juga berhubungan dengan hal-hal di luar bahasa, karena makna berkaitan erat dengan konvensi masyarakat suatu bahasa. Selain itu, hubungan antara simbol dan referen bersifat tidak langsung. Dengan kata lain, tidak ada sangkut paut antara simbol dengan aktivitas yang menjadi referen simbol tersebut.   

 

 

 

WARUNG ARTIKEL

May 5th, 2009

PERILAKU INFORMASI MAHASISWA

SEBAGAI PEMUSTAKA DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DAPAT DIKAJI DARI SUDUT PANDANG PSIKOLOGI PEMAKAI PERPUSTAKAAN

 

            Perpustakaan mempunyai peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di dalam lingkungan perguruan tinggi, perpustakaan merupakan jantung dari perguruan tinggi tersebut. Maju atau tidaknya suatu perguruan tinggi ditentukan oleh maju atau tidaknya keberadaan perpustakaan yang dimiliki perguruan tinggi tersebut. Perpustakaan merupakan sarana utama dalam menunjang kelengkapann sarana pendidikan yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.

            Dalam Undang-Undang Perpustakaan  tahun 2007 disebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, dan/atau karya rekam secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi para pemustaka. Koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan.

            Perpustakaan tidaklah berada di awang-awang, perpustakaan berada di tengah masyarakat serta dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat. Maka sudah sepatutnya perpustakaan memberikan jasa untuk masyarakat khususnya masyarakat pemakai (Basuki, 1991:127). Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan berusaha memberikan layanan yang semaksimal mungkin bagi pemustaka.

Mahasiswa sebagai pemustaka pada Perpustakaan Perguruan Tinggi mempunyai perilaku informasi tersendiri. Selain itu, penggunaan informasi oleh pemustaka diwujudkan dengan tindakan fisik. Perilaku informasi yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai pemustaka ini hampir sama di setiap Perpustakaan Perguruan Tinggi.

            Dervin (1992) menggambarkan seorang pencari informasi sebagai orang yang bergerak melalui sebuah situasi yang telah membuatnya merasakan ada kekurangan atau kesenjangan dalam struktur kognisinya. Kulthau (1991) menyoroti aspek afektif dalam proses pencarian informasi. Dalam modelnya, Kulthau menggambarkan kegiatan pencarian informasi sebagai sebuah proses konstruksi (pengembangan pembangunan) yang dilalui sesorang dari tahap ketidakpastian (uncertainty) menuju pemahaman (understanding). Ada 6 (enam)  tingkatan atau langkah yang terkandung dalam proses konstruksi ini, yaitu: awalan, pemilihan, penjelajahan, penyusunan, pengumpulan, dan penyajian (Pendit, 2006: http://yuniawan.blog.unair.ac.id/files/2008/03/ragam_teori_informasi.pdf).   

Jika dikaitkan dengan teori tersebut, perilaku informasi mahasiswa sebagai pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi dapat diketahui melalui langkah-langkah pencarian informasi yang mereka lakukan. Kebutuhan informasi mahasiswa sebagai pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi berkaitan dengan perkuliahan atau minat pribadi. Strategi penemuan yang dilakukan adalah dengan mencari langsung ke rak koleksi, melalui mesin pencari di internet, melalui katalog, serta bertanya kepada teman atau bertanya kepada pustakawan. Sedangkan penggunaan informasi mahasiswa sebagai pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi diwujudkan dengan tindakan fisik, seperti: menggarisbawahi, menstabilo, memberi catatan, menandai dengan melipat bagian halaman dari buku, menyobek halaman buku, serta memfotokopi. Terdapat juga pemustaka yang suka meminjam buku dengan jumlah banyak dan buku-buku tersebut selalu diperpanjang waktu peminjamannya. Mereka merasa mempunyai informasi dengan cara meminjam banyak buku. Akan tetapi, buku-buku tersebut tidak semuanya dibaca bahkan ada yang tidak dibaca sama sekali hingga akhirnya buku-buku itupun dikembalikan ke perpustakaan. Terdapat juga pemustaka yang suka mengcopy paste informasi dari internet tanpa menganalisis lebih dahulu.  

   Tindakan penggunaan informasi secara mental dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: kritis dan apatis terhadap informasi yang didapatkan (purwoko, 2008: http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&=digilib-uninsuka–purwoko-143&q=katalog). Tindakan penggunaan informasi secara kritis adalah tindakan penggunaan informasi yang tidak lekas percaya dan bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan, yakni tajam dalam penganalisisan. Tindakan penggunaan informasi secara apatis adalah kebalikan dari tindakan informasi secara kritis, yakni bersifat acuh tak acuh atau tidak perduli, yakni tindakan penggunaan informasi tanpa menganalisis terlebih dahulu.

Dari perilaku-perilaku informasi mahasiswa sebagai pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi ada yang menggunakan informasi secara kritis dan apatis. Contoh penggunaan informasi secara kritis: pemustaka menganalisis informasi yang telah didapatkan sebelum mereka menggunakan informasi tersebut, sehingga informasi yang mereka peroleh dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Contoh penggunaan informasi secara apatis: pemustaka langsung menggunakan informasi yang telah mereka dapatkan tanpa perduli benar atau tidaknya informasi tersebut.

Perilaku-perilaku informasi mahasiswa sebagai pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi tersebut dapat ditinjau dari sudut pandang psikologi pemakai perpustakaan. Mussen dan Rosenzwieg (dalam Qalyubi, dkk., 2007:241) menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah manusia. Woodwort dan Marques (dalam Qalyubi, dkk., 2007:241) menyatakan bahwa psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari aktivitas atau tingkah laku individu dalam berhubungan dengan lingkungannya. Morgan (dalam Qalyubi, dkk., 2007:241) menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan. Jadi, psikologi adalah ilmu pengetahuan (science) yang meneliti dan mengkaji tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannnya dan dengan interaksi antarmanusia. Berkaitan dengan itu, psikologi pelayanan atau pemakai dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam proses interaksi kerja di pusat-pusat jasa layanan, yaitu antara pelanggan/pegawai dan petugas/pegawai/karyawan (Qalyubi, dkk., 2007:241).

    Perilaku-perilaku informasi mahasiswa sebagai pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi termasuk dalam tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannnya dan dengan interaksi antarmanusia. Berkaitan dengan hal tersebut, perilaku-perilaku informasi mahasiswa sebagai pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi termasuk dalam tingkah laku pemustaka dalam proses interaksi di pusat jasa layanan (Perpustakaan Perguruan Tinggi). Secara tidak langsung perilaku informasi mahasiswa sebagai pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi ini berdampak pada pustakawan pada Perpustakaan perguruan Tinggi yang bersangkutan. Hal ini menunjukkan adanya proses interaksi antara pustakawan dengan pemustaka. Oleh karena itu, perilaku informasi mahasiswa sebagai pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi dapat dikaji dari sudut pandang psikologi pemakai perpustakaan.   

 

Literatur:

Basuki, Sulistyo. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia pustaka Utama.

Pendit, Putu Laxman. 2006. Ragam Teori Informasi. http://yuniawan.blog.unair.ac.id/files/2008/03/ragam_teori_informasi.pdf

Purwoko. 2008. Perilaku Informasi pemakai Perpustakaan di Perpustakaan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&=digilib-uninsuka–purwoko-143&q=katalog

Qalyubi, dkk., Syihabuddin. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi  (IPI) Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.

UU Perpustakaan tahun 2007 pasal 1 dan pasal 2.

 

WARUNG SASTRA (CERPEN)

May 5th, 2009
Cerita Daun Kering…….
Malam ini udara terasa lebih dingin dari biasanya. Gemerisik ranting tempatku bertengger membuatku terayun mengikuti angin. Aku bukanlah pujangga yang bisa memaknai malam dengan seribu puisi. Aku bukanlah penyair yang bisa melantunkan indanya puisi dengan suara yang menggelitik jiwa. Aku hanyalah daun yang hampir kering karena sinar mentari.
Tubuhku renta, wajahku pucat pasi, kulitku keriput menguning. Aku merasa sangat resah menanti hari esok. Menanti matahari keluar dari sarangnya. memberikan cahaya untukku. Aku berpikir, jika besok matahari benar-benar muncul pasti tubuhku tak hanya menguning, tapi pasti menjadi kering dan aku terlepas dari rantingku. Aku terjatuh ke bumi.
Dan di saat itu pertanda kehidupanku telah berakhir. Aku jadi teringat masa mudaku. Ketika hari pertama kali aku bersemi. Waktu itu usiaku masih sangat muda. Aku berpikir, aku tak ingin menjadi benda yang tak pernah berharga. Tapi Tuhan memang sangat baik. Dia mengabulkan doaku.
Kini kehidupanku telah berakhir dengan senyuman yang tak pernah bisa dihargai oleh indahnya dunia. Karena aku lebih suka indanya syurga. Aku melihat pohon yang telah membuatku hadir di dunia ini. Aku menjadi mengering karena sinar mentari dan aku bisa berfotosintesis karena dia. “Terima kasih matahari, kehadiranmu sangat berharga…..”
 
Aku tahu pohon dan ranting tempatku bertengger sedang galau karena kepergianku. Daun-daun, temanku, juga merasa bersedih karena keguguranku. Tapi aku melihat dari lubuk hati mereka yang paling dalam, “Kami bahagia untukmu, dan terima kasih atas pengorbananmu untuk menjadikan pohon terus hidup dan menghasilkan buah yang sangat manis”.
Aku melihat pemilik pohon sedang memetik buah yang sangat manis itu. Dia tersenyum bahagia dan berucap syukur kepada Tuhan kami.
Itulah arti dari hidup yang sesungguhnya.
“Kita berusaha untuk memberi sebanyak-banyak yang kita punya bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”. Kita tak mengaharap balasan dari orang lain, tapi kita selalu berusaha untuk mengingat kebaikan orang lain. Dan orang yang baik adalah orang yang cepat melupakan kebaikannya.”
 

WARUNG SASTRA (PUISI)

May 5th, 2009
SEKOTAK MUKJIZAT
AKU BUKANLAH PUTIH
AKU BUKANLAH PUTRI KECIL
DAN AKU JUGA BUKAN SEORANG PEMILIK MUKJIZAT

Hello world!

March 6th, 2009

Selamat datang di blog.ugm.ac.id. Ngebloglah dan curahkan pikiran anda disini. Silahkan menggunakan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab.

Admin blog akan melakukan peringatan apabila ada abusement/pelanggaran dalam penggunaan fasilitas ini.

selamat berkarya :)